Embun dari Surga it’s our love Syifa
Lembaran Episode kami, kini harus ku bagi dengan mu, wahai embunku dari surga. Mungkin inilah jalannya, aku dia dan kamu, dan kini hanyalah aku dan kamu, tapi dia selalu membersamai kita, dan menunggu kita untuk bersua kembali di sana.
Syifa... benarlah kita sama, walaupun kini tidak lagi bersama.
Kisah kami, Syifa dan Kak Rafif.
Dera sebelumnya sudah mengenal kak Arnold dari masa putih abu-abu, walaupun tidak sebaliknya. Senada tapi berbeda halnya dengan Ayyak, kisahnya dengan seorang pria blasteran Amerika yang ditemuinya di masa Co Ners nya, ternyata terikat benang merah dengan si Adik, Dera.
"When you say love, so that wait for two years, can you?" Sepenggal kata yang menggetarkan hati, tapi penuh makna.
Siapa yang berkata dan apa maksud kata itu? Bagaimana kisahnya? ikuti episode kisah mereka dalan bedah cerita Embun dari Surga. it's our love Syifa
PART 1. SEPOTONG EPISODE MASA LALU
★★★
“Mbak ayo bangunlah, mbak kan udah janji sama aku, pagi ini kita harus ke curuk Maribaya ama Kawah putih, saudara mu ini sudah jauh-jauh lo datang kesini" ucapnya
"Ra, jam 6 pun belum berdering, aku masih ngantuk nih. Kan janjinya jam 8 nanti" langsung ku tarik kembali selimut sampai hanya tersisa ujung jempol ku saja.
Dera benar-benar mengganggu rehat ku pagi itu, padahal hanya minggu hari bebas bagi ku dalam tujuh hari. Yah, benar walaupun perkuliahan Cuma sampe jum'at, tapi begitulah denganku, hanya hari minggu mesin otak dan fisik ku berhenti bersinkroni.
Sialnya, gangguan Dera tadi sungguh menghentikan perjalanan alam mimpi ku, aku pun bersandar di dinding samping tempat tidur, dan ku tatap arah luar, walau pun samar-samar ku melihatnya. Ya benar, cerminan diriku itu selalu saja bersemangat.
"pagi aja masih buta ra, kayaknya mesin mu yang kurang bener, terlalu bersemangat sih " gumam ku sambil menggeleng.
Entahlah apa yang iya katakan sambil menoleh ke arah jendela ku .
" mbak inget lo pagi-pagi udah subuh sama udah ashar itu nggak boleh tidur lagi, nanti pikun lo, basuh muka gih.....pale pale pale " hanya ujung kalimatnya yang dapat ku dengar, seperti biasa logat koreanya tidak terlalu pas.
Setelah menghela nafas sejenak, kini ku coba melangkah dengan gontai ke arah kamar mandi, ya hanya untuk sekedar membasuh muka dan menggosok gigi ku, kembali ke kamar tidur dan ku pasang jilbab dan jaket panda biru berkupluk yang bertumpuk di sandaran kursi plastik.
" Dera, aku laper nih sekarang, cari sarapan dulu yuk" ku pegang tangannya, dan langsung ku tarik untuk berlari ke lorong depan, di persimpangan ujung lorong ku lihat wajah Dera memerah kesal, tapi langsung ku tarik kembali untuk berlari menghampiri warung di simpang kiri.
Iya benar saja, 5 menit setelah kami tiba di meja pemesanan, mungkin puluhan orang mengantri di belakang kami.
" hahaha, mbak yak, jujur aja ya tadi aku beneran kesel, asal tarik aja, asal lari aja. Tapi aneh juga ya mbak, kayak cuma ada satu warung sarapan aja di sini" begitulah Dera menghapus wajah mendungnya dengan tawa di pagi itu.
"asal kamu tau aja ya Ra, warung ibu itu yang paling enak, dan pas harganya dengan kantong anak kost, jadi nggak heran deh kalau jam 6.15 udah panjang antreannya, kalau tadi nggak buru-buru, bisa nggak kebagian porsi kita." Jawab ku
Setelah sarapan di warung Bude Rahmi, kami menuju pelataran taman yang tidak jauh dari kostan ku. Rencananya mau jogging dulu, tapi rasanya walaupun amunisi pagi udah full, tetap saja ada konsekuensi dari itu semua.
“Ra, kita duduk di taman dulu ya, entar saja joggingnya, kayaknya amunisinya belum turun, hehe” ajakku pada adikku.
"hahahahhahahhaha" tawa kami bersautan di atas rerumputan tempat, dimana tempat kami merebahkan diri, sambil menatap biru nya langit di pagi buta itu. Setelah dirasa cukup mengumpulkan energi setelah menurunkan amunisi, kami pun melintasi setapak taman dengan langkah yang gontai. Cukup dengan dua putaran saja, sepertinya peluh kami seperti telah diperas.
Comments
Post a Comment