Next.. it’s our love Syifa

PART 2. TANGKAI YANG SAMA, MY TWIN

★★★

kami dilahirkan dari satu rahim yang sama, dalam waktu yang sama, hanya beda sepersekian menit saja, kira-kira beda dua menit saja usia aku dan mbakku.

Ayah bilang , syifa itu artinya obat, yang berarti obat kerinduan orang tua yang telah dinanti kehadirannya lebih kurang 5 tahun pernikahan mereka.

Entahlah, kaki ku ini paling tak suka berlama-lama duduk, selagi masih ada alas berpijak, mungkin kaki ku takkan berhenti menapak. Mungkin itulah  majas yang dapat menggambarkan diri ku yang tak suka hanya berdiam diri saja.

Aku sih aslinya orang Bekasi, tapi nggak tau juga sih kenapa bisa nyasar kuliah ke Pulau seberang. Iya, benar aku sekarang menjadi mahasiswa di salah satu universitas negeri di Pulau Sumatera, Universitas Bengkulu tepatnya. Salah satu kota yang bikin hati ku kepincut sama pesona alamnya, ya mungkin itu salah satu alasannya.

"Udara pagi emang seger ya, sayang banget kalau di lewatkan."gumam ku yang belum bisa move on  dari nyamanyya suasana pagi di kostan mbak Ayya.

Iya.. nama ku Syifa Adeirah, usia ku kini menapak 20 tahun. Kini aku sedang menjajaki bangku perkuliahan di jurusan FKIP matematika, Universitasnya udah tau dong, UnIB. Tahun depan udah bisa foto pake toga sama, umi, abah, dan mba ayya deh kayaknya. Di aminin saja ya.

Tapi tunggu dulu, wisudaan siapa dulu ya, aku atau mba ayya yah...

Oh iya..aku terus memanggil mba Ayya yang terlihat bayangnya dari balik jendela, kurasa jogging  dua putaran tadi belum cukup membawanya ke alam sadar, iya selama aku  mandi tadi, ternyata mbak Ayya rebahan lagi ke pulau kapuknya.

Ehem...sampai kelupaan. Kenalin nih, cewek manis di balik jendela itu belahan jiwaku, kembaran ku, Syifa Athiyyah. Terdengar memuji diri sendiri sih, karena parasnya mirip dengan ku, tapi ku akui dia lebih manis dengan keanggunannya itu.

Embun pagi menghalangi pandanganku, lalu aku gosok kaca jendela, iya sekarang terlihat lebih jelas.

Oh.iya, tadi si Dera udah ngenalin ya, namaku  Syifa Athiyyah, kalau semua orang sih taunya manggil Syifa aja. Secara tempat tinggalku dan Dera berjauhan, jadi tak banyak temanku di Bandung ini yang tau kalau aku punya kembaran. Kalau panggilan sayang dari adikku Dera sih, mbak Ayya.

Oh..iya, aku juga masih mahasiswa, tapi di Bandung, tepatnya di Unpad. Kalau ditanya jurusannya sih, kasih tau nggak ya. Ntar aja deh ngasih taunya.

Liburan ini, Dera main ke Bandung. Katanya minta di ajak ke Curuk Mirabaya ama Kawah Putih.

"......pale..pale.."

Wah panggilan Dera membuyarkan gumamanku,

"Wait...." sahut ku dari balik dinding.

***

"Iya, mas ku Abdullah Rafif. Nanti sore aja deh aku  kasih taunya, soalnya view nya lagi sayang banget di lewatkan. Gak papa kan mas?" Jawab Syifa.

"Iya sayang, sekarang kita foto bareng yuk" Rafif menghampiri Syifa yang sedang mengambil foto. "lo..kamu nangis dek? Pantesan  saja nggak kedengaran kicauannya" Rafif menghapus air mata Syifa yang kini membasahi pipi tirusnya. "Ada apa dek, coba ceritakan pada mas mu ini, ada masalah apa?" lanjut Rafif.

"Enggak apa-apa mas, Syifa hanya teringat musim semi dua tahun yang lalu" syifa mulai menjelaskan dengan suara yang masih merintih.

"Iya sayang, kenangan itu akan selalu hidup di hati kita" peluk Rafif menenangkan.

***

"Mba Ayya, waw waw waw, Subhanalloh...indahnya pemandangan di Curuk ini, sayang sekali kita nggak bisa menari bersama aliran air yang terjatuh itu" Dera berdecak kagum dengan keindahan Curug Maribaya.

"Kamu itu ya, sok puitis banget. Tapi iya lah dek nggak boleh nyebur, nanti aurotmu nampak" jawab Ayya.

"Mbak, kayaknya hari ni kita nggak usah ke kawah deh.. kita di sini aja ya, ke kawahnya besok aja deh, ya ya ya" bujuk Dera

"Iya dek" jawab Ayya singkat

"Iya iya mbak, mbak.. Dera mau  turun sih ke bawah, biar lebih bagus view nya. ayo mba Ayya" ajak Dera

"Mbak hanya mengingatkanmu sayang, mbak nunggu aja di gazebo deh Ra, kayaknya tenang banget kalo rehat di sana" sahut Ayya sembari berjalan  menuju gazebo di bawah pohon besar yang udah nampak walau dilihat dari kejauhan.

Sepertinya Dera keasyikan hunting photo di bawah sana.

"Wah ini lebih baik" Ayya bersandar di gazebo dengan punggung tangan menopang pipinya, lengannya menjadi penopang di pegangan gazebo, dalam hitungan detik pun matanya sudah mulai merapat. Ujung jilbab panjangnya dihempas angin sepoi sepoi, sungguh moment dan tempat yang tepat untuk berlayar ke pulau mimpi.

"Cekrek" bunyi camdig mengambil foto dari balik pohon besar

Dera sepertinya sudah cukup puas berkeliling, dan kini menuju arah gazebo tempat kakak kembarnya tadi menunggu

"Wah...pria yang tadi itu seperti tidak asing lagi, siapa ya.." gumam Dera yang kini hanya melihat punggung lelaki yang tadi hunting di balik pohon, kini lelaki itu telah jauh nyaris tak terlihat lagi belakangnya.

"Byar" Ayya mengejutkan Dera yang sedang melamun

"Lagi mikirin apa sih, liat apa emangnya?" Tanya Ayya

"Nggak kok mba, Dera udah selesai nih.. kita cari kuliner sih, kayaknya cacing di perut Dera udah  nelpon deh..hehe" gerutu Dera sambil memegang perutnya

"Iya deh, kayaknya mbak juga udah mulai laper" saut Ayya

"Benar deh, kayaknya itu... iya deh aku yakin, pasti dia.. tambah manis ya. Astaghfirulloh Ra, sadar sadar.. nggak boleh mikir aneh aneh.. bukan  mahrom" gumam Dera sambil seyum-senyum kecil. Dera dan Ayya bergandengan tangan menuju saung yang menjajakan berbagai hidangan khas Bandung, yang kini mereka lewati gerbang pintu masuknya.

***

"Der, liatin apa sih? Kamu  itu ya, kalo lagi di ruang mtk, hobby banget  melongok ke bawah  jendela, ada apa emangnya?" Eci menepuk kecil bahu Dera yang sedang melongok ke bawah jendela.

"Ya.ya..ya, lagi-lagi kamu mengabaikan ku, " kali ini tepukan Eci lebih kuat lagi, ya dia berhasil membuyarkan lamunan Dera.

"Subhanalloh, ada ya makhluk ciptaan Tuhan punya hidung selicin papan selancar, seputih bulu domba" kini lamunannya membuncah terucap melalui kata nya.

"Apa an sih Ra, makhluk apaan emangnya?" Eci membisik di telinga Dera, tampaklah pria blasteran Australia Arab, yang kini memakai kaos abu-abu, seragam olahraga sekolah mereka.

“Oalah, namanya bang Arnold Ra, emang sih mancung kayak selancar, tapi apalah mau dikata Ra, benteng terlalu menjulang tinggi" celetuk Eci

Dera pun terbelalak matanya, kening nya pun berkerut "maksud kamu Ci?, oh iya kamu kenal dia?"

"Ya elah Ra, mungkin cuma kamu yang nggak tahu, kalau bang Arnold itu kakak kelas sebelas yang baru pindah, namanya saja Arnold Matheus, kamu masih nggak ngeh maksudnya..?" Eci menepuk jidatnya.

"O...nama lengkapnya Arnold Matheus," ulang Dera kagum. "Tapi tunggu dulu, kok kamu tau nama lengkapnya, lagipula kok cuma aku  sih yang nggak tahu  kalau ada murid pindahan, aku kemana aja ya?" Rengek Dera sedih.

"Ya iyalah, pas hari dia masuk, kamu nya izin sakit say, udahlah Ra , nggak penting juga." Eci tak terlalu menggubris tentang keberadaan Arnold.

"Tumben kamu nggak antusias, biasanya kalau ada yang licin, pasti di pantengin terus. Kok nggak dengan kak Arnold?" Dera masih kebingungan, pertanyaannya bagai tak ada hentinya.

"sudah aku bilang kan tadi, benteng terlalu tinggi untuk ku gapai, jadi mending aku yang mundur deh..hahhaa" gelagak tawa mengakhiri puisi pupus harapannya.

"Dari tadi kamu bilang benteng, benteng, apa maksudnya Ci?" Tanya Dera, dengan nada sedikit jengkel.

" Benteng Romawi. Ya bukanlah. Dia itu noni, maksud kan?" Jelas Eci singkat. "Sudahlah, lupakan saja, masih banyak ikhwan yang lain" lanjutnya.

"Astaghfirulloh bukan mahrom,, hus..hus" gumam Dera dalam hati.

***

"Ra, sayang banget lo, ikannya dianggurin. Lagi mikirin apa emangnya adikku  ini..ketemu siapa emangny di curug tadi, kok nggak cerita "goda Ayyak ingin tahu.

"Nggak ah mbak, tadi cuma keingetan sama some thing saja..hehe" jawab Dera singkat, seperti maling yang ketangkap basah saat melakukan aksinya.

"Kak Arnold bukan ya" pikirannya masih bergumam, sambil memotong-motong kecil daging ikannya, tanpa melahapnya.

“ah sudahlah, lupakan saja mungkin aku salah lihat. Nggak mungkin kan itu kak Amold, style pakaiannya saja jauh berbeda” gumam Dera sambil melahap potongan ikan tadi.

Setelah selesai santap siang, Syifa bersaudara menuju salah satu masjid untuk Sholat Dzuhur. Kemudian mereka memutuskan untuk kembali ke Gazebo dekat Curug. “mbak, walaupun kita mirip, tapi hobi dan sifat kita beda ya, kok bisa ya?”Dera memulai obrolan sembari melihat ke arah kakaknya yang terlihat sedang melakukan relaksasi nafas dalam.

“Ya iyalah dek, nggak mungkin kan semuanya sama. Kalau semuanya sama hidup kita nggak berwarna dan saling melengkapi” jawab Ayya dengan senyuman lesung pipitnya.

Comments