Next..it’s our love Syifa

Part 3. Abu Kelabu Episode Yang Lalu

engkau bagaikan fatamorgana di hamparan pasir

ah..iya ternyata hanyalah fatamorgana saja, tapi tampak begitu nyata

aku telusuri hamparan ini, mungkin saja lurus ataukah melingkar

Entahlah tak lagi ku pikir arahnya

Hanyalah fatamorgana yang kini aku kagumi dalam diam

 

Tepuk tangan bergemuruh, bahkan ada siulan yang sahut menyahut.

“wah ini baru sahabatku, perform kita tadi ...” Eci terlihat mengacungkan kedua jempolnya saat aku menghampirinya setelah turun dari atas panggung.

“sepertinya kamu tadi terlalu menghayati deh Ra, penutupnya itu lo, dalem banget makna puisinya, aku saja sampai nggak tahu maksunya..haha” lanjut Eci dengan gelagak tawanya.

“kamu itu ya Ci temanku atau musuhku sih, itu pujian atau ejekan sebenarnya?. Sudahlah, sepertinya seluruh penonton malah terbius dengan suara merdumu Ci” balasku dengan mengernyitkan dahi, tapi segera ku rangkul bahunya dan kami segera berlabuh ke sumber pengisi energi.  Iya sekarang tepat pukul 12.00 siang, dan tentu saja perut kami sudah bergemuruh sejak di atas panggung tadi.

“Nasi rendang buatan Uni Nisa emang muantap” puji Eci saat Uni Nisa menghidangkan pesanan ke meja kami di kantin. “menurut kamu kita bakal menang nggak ya Ra?”celotehnya berlanjut setelah Uni meninggalkan meja kami.

“kamu itu lo Ci, sudah jelas ada nasi rendang di depan mata, eh malah mikirin hasil lomba tadi, mending kita langsung santap dulu, urusan lomba biar juri yang mikir. Hahaha” gerutuku diiringi tawa karena tak sabar lagi ingin melumat habis hidangan ini.

Hari ini ada perlombaan pentas seni di SMA kami untuk memperingati hari berdirinya SMA ini. Setiap kelas harus mengirimkan penampilan-penampilan di bidang seni musik hari ini sebagai hari puncak perlombaan. Sebenarnya pelombaan ini telah dimulai dari dua hari yang lalu, baik di bidang olimpiade mata pelajaran, karya ilmiah, kebersihan kelas dan pertunjukan seni umum. Jadi, hasil semua perlombaan itu akan diumumkan hari ini.

“................. VII.3 ” sepenggal pengumuman terdengar dari mikrofon di atas panggung.

“ eh sepertinya tadi kelas VII.3 disebut deh. Akibat keasyikan makan, jadi nggak kedengaran deh, itu lomba apa ya?” Eci terlihat tak sabar lagi ingin kembali ke area panggung, karena sepertinya pengumuman hasil semua perlombaan sudah diumumkan.

“sabar saja Ci, kita turunin dulu rendangnya, masih nyangkut di tenggorokan nih. Kalau menang juga trofinya nggak .............”belum sempat aku melanjutkan kata-kata ku, Eci langsung saja menghambur berlari ke area panggung.

“.....akan lari.” Sambungku. Setelah ku rasa cukup menunggu, aku segera menghampiri Eci. Langkah ku gontai, belum sampai aku ke area panggung, Eci segera menghampiri ku .

“wah Dera, kamu menang, kita menang” senyum sumringah terlihat mengembang di wajahnya sambil sesegera memelukku.

“allhamdulillah” jawab ku tidak terlalu antusias karena posisi tubuhku yang menahan agar tidak terjatuh, karena pelukan Eci yang tiba-tiba tadi.

“emang kamu nggak mau nanya, menang untuk lomba apa dan juara berapa?” goda Eci

“selamat ya, otak ilmu pasti yang kamu banggakan itu tidak ada duanya. Dan lomba musik kita juga” lanjut Eci seperti tak ingin memberikan jedah untuk ku bicara.

“maksudnya?” sepertinya penjelasan Eci terlalu berbelit-belit sehingga aku kesulitan mencernanya.

“wah nggak nyangka orang sepinter kamu ternyata telmi juga” ejek Eci dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“kamu juara pertama di olimpiade matematika maksud aku.” Lanjut Eci menjelaskan.

“lah, terus kita?” balasku tak puas dengan jawaban Eci.

“sabar dulu neng, kan aku belum selesai ngejelasinyya.” Eci mulai mengernyitkan dahinya dan diam sejenak.

“ ya terus kita gimana, gimana pensi kita tadi?” aku mendesak Eci untuk menjawab pertanyaanku

“ ya terus apalagi, ...” Eci memutuskan kata-katanya, dan aku pun memasang wajah sedih. “ kita harus puas untuk posisi kedua hasil pensi tadi. Tapi aku mengakui perform kakak pindahan tadi, keren juga.” Lanjut Eci.

“oh jadi kak Amold dapet juara pertama” aku langsung senyum mendengarnya.

“ kamu ini yah Ra, tadi penasaran banget sama hasil pensi kita. Pas aku cerita tentang kakak itu, eh malah gak direspon lagi kemenangan kita.” Eci menggerutu.

Aku segera mencubit pipi tembemnya itu dan langsung menggandeng tangan Eci “sis Eci, aku senang kita bisa menang pensi tadi, walaupun kita di posisi kedua kok. Ayo kita maju ke atas panggung sepertinya sudah selesai diumumkan semua perlombaannya.”

“ehem, antusias banget ya. Mau ke atas panggung karena menang, atau karena mau lihat kak Amol. Cie...cie.” Eci mulai menggodaku, dan kami menjalani hari ini dengan tak henti-hentinya bergosip tentang jalannya pensi yang kami ikuti tadi.

Wah, aku sadar dia bukan golongan ku, rasa ini tetaplah fitrah. Aku pun tidak berhak untuk memberi gelar kafir padanya. Karena hal itu tidak dapat dibenarkan oleh agama ku, mungkin saja sekarang dia hanya belum mendapat hidayah atau mungkin anak turunnya kelak akan mendapatkan hidayah dari Alloh. Ku lihat senyum mengembang di wajahnya saat menyambut tropi piala kemenangan atas first performence of the year . kami berdua pun ikut bertepuk tangan untuk mereka, dan begitupun saat tropi posisi kedua kami diberikan.

Satu hari berganti hari kedua, dan pertemuan pertama di hari ketiga itu pun terjadi.

“Baiklah semua selamat atas kemenangan beberapa anggota tim kita yang memenangkan kompetisi musik tahun ini, semoga keberhasilan kita tidak berhenti hanya di tingkat sekolah saja, tetapi bisa melejit ke tingkat nasional bahkan internasional” sepenggal pembukaan dari leader tim MOE.

“amin” jawab kami bersama.

Begitulah pertemuan pertama kami dimulai kembali sejak penutupan pentas seni sekolah. Tim yang aku maksudkan adalah salah satu bentuk ekstrakurikuler di sekolah bertajuk Magic of Estetica (MOE). Awalnya aku terpaksa mengikuti ekskul ini, ya benar karena si Eci. Waktu itu pergantian semester di tahun pertama kami. Siswa dapat memilih ekskul pilihannya di tingkat ini. Sedangkan aku sama sekali tidak punya ketertarikan untuk mengikuti kegiatan seperti ini, tapi Eci lah yang menyeretku dalam tim ini.

“OK. Guys, kita hari ini kedatangan anggota baru” dimana ada leader di situ ada co-leader atau disebut dengan wakil. Iya, itu Eci sahabat yang aku maksud telah menyeretku dalam tim ini. Sekarang posisinya sebagai co-leader, selain sebagai kemampuannya dalam seni tentu saja kecakapannya dalam bersosialisasi juga baik, terutama berkomunikasi dengan semua orang.

“ini dia seorang kating tingkat dua yang sebelumnya kita ketahui sebagai pemenang pentas seni tahun ini. Silahkan memperkenalkan dirinya kak..” lanjut Eci.

“o..o.. ternyata dia.” Gumamku setelah melihat kak Amol melangkahkan kaki untuk masuk ke ruang kami, dan tentu saja gumamku tentang leader dan co leader tadi harus terhenti.

“good afternoon all, I hope we will run good relation right. Nama saya Amol, untuk tingkat satu bisa call me kak Amol. Mohon kerjasamanya. Terima kasih.” Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang tegas tapi terasa sejuk walaupun logatnya agak ke Inggris an .

SubhanaAlloh wani’mal wakil

Cukuplah dengan Alloh dan dengan yang dipasrahi

Comments