Next..it’s our love Syifa
Part 4. Percakapan pertama
“eh,, kalian yang dapet second position kemaren kan. Performence kalian udah OK, tingkatkan lagi ya, jangan mudah puas.” Sapa kak Amol menyela sesi latihan gitaris aku dan Eci.
“oh. Iya kak terimakasih. Perform kakak juga jauh lebih baik dari kami.” Balas Eci. Sedangkan aku hanya tersenyum ke arahnya.
Kemudian kak Amol mengulurkan tangannya ke arahku, bermaksud untuk berjabat tangan. Kedua telapak tangan ku langsung beradu sebelum saling bertaut dengan jabatan kak Amol. “o.iya kak selamat bergabung di MOE.” Lanjutku.
Dahinya mengernyit terlihat kebingungan tetapi tidak bertahan lama. “ iya, mohon kerjasamanya” lanjutnya sembari meninggalkan kami berdua.
“otokeo Eci, aku nggak lagi mimpi kan? Tadi itu kak Amol kan, dia nyapa kita, wowowowoow,,”
Hari itu berlalu dengan obrolan tiada henti tentang kak Amol.
Hari ini hari yang paling ditunggu oleh semua siswa di sekolah kami, tidak perlu memikirkan runtutan pelajaran-pelajaran atau pun berpapas muka sepanjang jam sekolah dengan para guru. Sabtu dimana hari semua orang bebas berkreasi, ada yang seharian penuh latihan olahraga, atau sekedar tiduran di bawah pohon rindang sembari mendengarkan lantunan musik dari earphone. Ada juga siswa yang seharian penuh di perpustakaan, dan masih banyak lagi mcam-macam kegiatan di sekolah ku, mungkin takkan cukup 100 halaman untuk mengisahkan satu persatu runtutan kegiatan kami pada hari Sabtu.
“Jreng...jreng..jreng...jreng...jreng” senarnya berdenting, lima kunci gitar baru saja kumainkan, walaupun mungkin belum terlalu lihai dan merdu didengar.
“wah,, you wanna try to play it. ?” sapa seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari balik pohon beringin yang kini aku sedang duduk di bawahnya.
“oh.iya kak. Ini baru belajar main gitar, jadi masih kaku.” Sahut ku.
“hai..hai..hai...assalamualaikum” Eci menyusul berselang 3 detik dari datangnya kak Amol.
“allhamdulillah” gumamku dalam hati. Bukan apa-apa, dari tadi aku deg-degan karena hanya berdua saja dengan kak Amol, bukan mahrom toh. Untung saja Eci segera datang.
“hei..mikirin apa lo, mbok toh dijawab salam orang tuh.” Dera membuyarkan gumamanku dengan logat jawa yang kaku. Dia memang hobby berlogat kejawa-jawaan, padahal matanya sipit dan aksen Cina nya juga masih kental.
“iya..iya.” jawabku
“iya apa, tuh kan galfok ya.”ledek Eci menyeringai.
“iya..waalaikumsalamwarohmatullohi wabarokatuh.”jawabku.
“ nih roti panggang, tadi aku beli di kantin, kak Amol juga boleh ikutan makan kok.” Eci menawarkan sambil membuka kantong kresek dan menghidangkannya di tengah-tengah kami.
Saat itu kami duduk di tikar dengan beratapkan rerimbunan pohon beringin, biasanya aku dan Eci menghabiskan Sabtu kami di sana seharian, dan hari itu kami kedatangan tamu tampan tak diundang.
“seru ya hari sabtu di sini, semua siswa bebas berkreasi. Oh iya apa itu galfok?” Kak Amol membuka obrolan setelah satu dua gigitan roti panggang di tangan kirinya.
“ya seperti itulah uniknya sekolah kami kak. Haha..kak Amol lucu deh, galfok itu maksudnya gagal fokus” Lanjut Eci, dan aku hanya tersenyum sambil sesekali menoleh ke arah kak Amol.
“ini orang sih kidal ya kidal, tapi mesti ya makan juga pakai tangan kiri” gumamku dalam hati.
“o,,like that.Eci, temanmu ini ternyata pendiam ya. Dari tadi kakak lihat hanya senyum saja.” Lanjut kak Amol.
“nggak juga kak, mungkin karena belum kenal saja, hehe.” Jawab Eci dengan melempar senyum dan cubitan ke pipi ku.
Iya pasti di dalam hatinya, Eci sedang meledek dan mentertawakan aku dengan sangat puas.
“bip..bip..” handphone ku berdering. Ada satu panggilan tak terjawab dari GAMA DUA.
“mbak...” kemudian langsung ku telpon balik nomor itu.
“ assalamualaikum mbak?”
“gimana kabarnya di sana?”
“mbak betah di sana?”
“ lancar nggak mbak sekolahnya? Ngajinya? Bisa tidur nggak?”
“iya aku baik-baik saja di sini, umi abi juga sehat di sini, tapi sekarang Dera lagi di sekolah, nanti Dera telpon umi biar nelpon mbak ya,”jawabku, tidak disangka air mata menetes juga di kedua belah pipi ku. Mungkin rasa rindu yang membuncah sudah tidak tertahankan lagi untuk kakakku itu.
“nggak..Dera lagi pilek aja kok mbak, mbak jaga kesehatan ya di sana, semoga menjadi penyampai agama Alloh yang alim, paqih, paham dan baroqah ya..fighting mbak. Iya wa’alaikumsalam.” Aku menutup telpon dan menghusap air mata yang sudah membanjiri wajah ku. Setelah ku rasa cukup kering, aku langsung menhampiri lagi Eci dan Kak Amol yang kutinggalkan begitu saja saat menelpn kakakku tadi.
“maaf,, tadi ada telepon. O,iya Ci, kunci gitar lagu laskar pelangi loh Ci.” Pinta ku pada sahabatku itu dengan setengah merengek.
“hehe. Aku lupa kuncinya, lagu lain saja sih Ra, lagu Bondan saja ya..Hidup berawal dari apa ya..” jawab si Eci.
“yah.. kok lupa sih Ci.” Aku mengernyitkan dahi ku.
“ oh laskar pelangi ya,, Nidji kan?” kak Amol menyela di tengah obrolan kami, sembari memetik senar gitar yang sedari tadi di kalungkan di punggungnya.
“G C
Mimpi adalah kunci
Bm C D
Untuk kita menaklukkan dunia
Bm C
Berlalilah tanpa lelah
Bm C D
Sampai engkau meraihnya
G C
Laskar pelangi
Bm C D
Takkan terikat waktu
Em Bm
Bebaskan mimpimu di angkasa
C D
Warnai bintang di jiwa
G
Menarilah dan terus........” Kak Amol terus memainkan gitarnya, tapi entahlah aku hanya mendengar sepenggal liriknya saja, hati dan fikiranku mungkin telah berkelana jauh. Tanpa kusadari air mataku mulai menetes, dan segera kuhapus. Aku benar-benar merindukkan kakakku itu. Gumamku dalam hati.
“ini, sudah kakak tuliskan kunci gitarnya ya, nanti kamu coba. O.iya Dera, Eci kakak ke basecamp dulu ya, ada janji sama orang.” Kak Amol menyodorkan oretan kertas yang dimaksudnya tadi, dan Dera langsung mengambilnya. Sedangkan aku hanya tersenyum ke arahnya. Lagi-lagi aku melihat kernyitan di dahi kak Amol, mungkin dia kebingungan karena aku tidak menyambut sodoran kertas darinya. Tapi ya sudahlah, dia juga tidak bertanya pada ku.
Hari demi hari, kami lalui dan akhirnya sekarang kami duduk di tingkat dua, dan itu artinya kak Amol naik kelas ke tingkat tiga. Semua anak tingkat tiga tidak lagi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karena mereka difokuskan untuk persiapan menhadapi ujian nasional. Sejak hari itu, kami bertiga mulai akrab, dan selalu bertemu di bawah pohon beringin setiap hari Sabtunya, walaupun sering juga bertemu di MOA. Akan tetapi, sejak naik tingkat kelas, kami sudah jarang bertemu, mungkin hanya sesekali berpapasan di jalan atau pun koridor sekolah, dan tentunya teman ku si Eci yang memegang tongkat estafet menjadi leader MOA umtuk sekarang ini. Bulan pun berganti bulan. Hari itu di bulan Mei, kami sedang mempersiapkan agenda perpisahan kakak tingkat tiga, kebetulan aku dan Eci tergabung dengan anggota MOA yang lain untuk mengisi beberapa perform di acara tersebut. Saat itu, aku sedang menjabat sebagai ketua osis si sekolahku, jadi tentu saja aku sangat disibukkan dengan persiapan ini.
“ok. Baiklah teman-teman sebelum kita memulai gladi pada hari ini, marilah kita berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing, semoga pelaksanaan gladi sampai pelaksanaan di hari-H besok berjalan dengan lancar tanpa kekurangan sesuatu apapun.” Aku memimpin pertemuan sebelum gladi pada hari Sabtu itu, karena pelaksanaannya akan dilakukan pada hari minggu besok. Runtutan kegiatan gladi telah dilakukan satu persatu, dan akhirnya kegiatan pada hari itu di tutup. Tibalah pada hari minggu yang di tunggu-tunggu kakak tingkat tiga kami, setelah beberapa kata sambutan dari petinggi sekolah, kini kesempatan memberikan kata sambutan diberikan kepadaku selaku ketua osis.
“....semoga, kelak kakak-kakak kami ini dapat menjadi kebanggaan sekolah kita dengan prestasi-prestasi di luar sana. Kami harapkan juga para kakak alumnus nantinya dapat berkontribusi untuk kemajuan sekolah yang kita cintai ini. Mungkin tidak banyak yang dapat saya sampaikan, selamat menanggalkan seragam abu-abunya dan memulai merajut masa depan yang cerah...”mungkin itu sepenggal kata-kata yang aku ucapkan, entahlah semoga dapat dicerna dengan baik oleh para hadirin. Ya, mungkin itu juga terakhir kalinya aku berpapasan dengan kak Amol, saat aku turun dari podium. Kak Amol menjadi perwakilan alumnus untuk memberikan pesan dan kesan selama bersekolah di SMA ini. Hanya senyum yang bisa ku sampaikan padanya, ada sedikit perasaan sedih. Tetapi bukan tanpa alasan kesedihan ku. Aku dan Eci sudah bersahabat dengannya, dan mulai hari ini kami tidak akan bertemu atau pun berpapasan lagi dengannya, karena kak Amol akan melanjutkan s1 nya di negeri Sakura Jepang. Kak Amol menjadi salah satu siswa pilihan untuk beasiswa s1 teknik perminyakan di Jepang. “wah subhanaalloh sekali kakak itu. Stop Dera, hentikan. Kamu dan dia itu tidak sama, berhenti mengaguminya, dia bukan muslim, jangan mengagumi yang tidak seiman denganmu, hentikan pikiran konyolmu.” Pikiranku mulai beradu dan terhenti saat tepuk tangan gemuruh mnegiringi sambutan terakhir dari kak Amol.
Ya, hari itu kembali terlewati dengan tanpa sesuatu pun yang terbekas, kecuali fakta tentang kepergian kak Amol.
“ayo lagi mikirin apa? Kenapa sih kamu sekarang ini sering diam?” Eci mulai menggoda sambil mencubit pipiku.
“blub.” Bunyi hp Eci memecah suasana, dan sepertinya hp ku juga bergetar. Sepertinya ada pesan masuk.
“adik-adikku selamat beraktivitas. Kakak mau pamit nih, makasih ya sudah menjadi sahabat kakak selama bersekolah di sini, teruslah bermimpi dan jangan patah semangat. See you in other occasion.”
“iya kakak, terimaksih juga ilmunya selama ini, sampai ketemu lagi.” Balas Eci sambil mengetik di hp nya.
aku hanya terdiam saat membuka pesan di hp ku itu.
“eh, kasihan tahu kalau nggak dibales. Kak Amol mau pamitan tuh.” Bujuk Eci agar aku membalas pesan dari kak Amol.
“eh, tapi jangan terlalu singkat kayak biasanya ya, panjangin dikit apa kalimatnya.” Lanjut Eci sambil menepuk bahu ku dan berlalu pergi entah kemana, mungkin ke kantin pikirku.
Kini hanya aku dan hp ku saja di bawah pohon beringin itu. Aku mulai mengetik balasan sms dari kak Amol.
”iya kak, semoga suskses ya di sana. Jangan lupa bawakan bunga sakura kalau kembali ke sini.” Balasku singkat. Tapi tidak sesingkat biasanya. Maksud ku selama ini, hanyalah ingin menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan zinah, kak Amol sendiri kalau sms pasti lebih sering mengirim sms pada Eci, karena dia tahu kalau aku hanya membalas iya atau tidak atau pun hanya emoticon .
“wah tumben panjang balasannya, iya saja atau tidak saja. Eh Ra. Bisa mengobrol sebentar nggak, kakak telpon ya, bentar saja, penting soalnya. Ya.ya.ya.” hp ku bergetar lagi dan benar saja ada pesan masuk dari kak Amol.
“bagaimana ini, angkat tidak ya, ya Alloh ampunilah aku. Sekali ini saja, mungkin memang penting yang ingin dibacarakan kak Amol. Bismillah.” Gumamku dalam hati.
Terdengar hp ku berdering sebanyak dua kali, akhirnya aku memutuskan untuk mengangkat telepon dari kak Amol untuk deringan ye ketiga.
“iya kak?” tanya ku singkat namun penuh penasaran.
“assalamualaikum.” Sahutnya dari telepon.
“waalaikum.” Jawabku balik.
“akhirnya kamu mau juga ditelepon Ra.”
“kata kak Amol tadi ada hal penting, apa ya kak?” jawabku.
“serius amat Ra. Hehe..nggak kok, kakak Cuma mau nanya beberapa hal penting saja boleh?.” Balas kak Amol.
“iya kak. Apa ya kak?” tanyaku lagi.
“sebelumnya kakak makasih banyak ya, selama ini kamu sama Eci sudah jadi sahabat kaka selama kakak sekolah di sini, oh iya, Dera ingat nggak waktu kita ngobrol pertama kali dulu, kan kakak pernah mau jabat tangan tuh sama Dera, tapi kok Dera langsung menutup tangan Dera ya, sejak saat itu kakak nggak pernah lagi kan berjabat tangan dengan Dera, kakak hanya penasaran saja alasannya kenapa Ra, apa Dera benci sama kakak atau kenapa ya, tapi kalau Dera benci mengapa mau berteman dengan kakak. Dari semua orang-orang yang kakak temuin di sekolah kita, hanya Dera yang tidak pernah menyambut jabatan tangan dari kakak. Kakak nanya ini karena penasaran lo Ra. Tapi kalau Dera tidak mau berjabat tangan dengan kakak karena kakak punya salah, kakak minta maaf ya Ra” Panjang lebar kak Amol menjelaskan pertanyaannya. Sepertinya aku mulai ingat adegan jabatan tangan itu, tanpa disadari aku tertawa lepas mengingat kejadian itu
“hahaahahaa....kak Amol, kirain hal penting apa yang mau kakak bicarakan. Itu aja kak?” aku meledek kak Amol sambil tertawa kecil.
“masih ada lagi Ra, setiap kakak memberikan apapun ke Dera, pastilah si Eci yang menyambutnya, kayaknya kakak benaran punya salah deh ke Dera. Maaf ya Ra, maaf.” Lanjutnya.
“oalah kak Amol, wah maaf ya kak kalau kakak tersinggung dengan apa yang Dera lakukan.” Jawabku singkat.
“nggak Ra, kakak sama sekali tidak tersinggung, hanya saja, kaka merasa nggak enak hati sama Dera, kakak merasa bersalah. Sebenanrnya kakak sudah lama pengen nanya, tapi nggak ada timing yang pas. Jadi apa alasannya Ra?.” Tanya kak Amol sekali lagi, sepertinya dia benar-benar penasaran tentang itu.
“begini kak, sebenarnya dalam agama Islam, kami dilarang bersentuhan dengan orang yang bukan mahrom kami, untuk menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan, saat aku menutup kedua tangan ku itu juga namanya berjabat tangan / cara bersalaman dengan orang yang bukan mahrom kita. Seperti itu kak.”jelasku dengan singkat.
“o, berarti karena peraturan agamanya seperti itu ya, bukan karena kakak punya salah kan?”tanya kak Amol
“iya kakak.hehe.” balasku singkat. Ingin ku akhiri segera obrolan ini. Ada rasa menggebu-gebu senang karena kesempatan untuk ngobrol berdua pun terjadi juga, tetapi ada perasaan takut melanggar hukum Alloh, ingin segera ku akhiri saja obrolan ini. Mungkin itu yang ada di benakku saat itu.
“Hello Ra, masih di sana kan? Oh iya jangan di tutup dulu ya, gini lo mungkin enam tahun lagi lo kakak baru balik lagi ke sini, nggak tahu apa semua yang ada di sekolah kita nanti sudah berubah atau belum. Tapi semoga saja pohon beringinnya belum ditebang ya, kakak mau ngasih tahu kalau kakak landingnya besok, sekali lagi kakak minta maaf ya kalau kakak banyak salah atau mungkin sering ngerepotin, tapi kakak makasih banyak lo sudah diajarin bahasa Indonesia selama di sini, kalian semoga bisa jaga diri ya di sana.” Lanjut kak Amol
“iya kak, kakak juga jaga kesehatannya ya di sana, kami di sini juga ngedoain kakak supaya sukses dan lancar semua urusannya di Jepang.” Jawabku singkat
“Kakak tutup dulu ya, selamat siang. Sampaikan salam kakak pada Eci ya, good bye Dera” kata terakhir yang terdengar dari balik telepon kak Amol.
Semua kini kembali terasa hening, hanya aku dan semilir angin di bawah pohon beringin saja, tidak terasa pipiku mulai lembab. Percakapan kami pun berakhir. Setelah hari itu, kami tidak lagi mendengar kabar dari kak Amol, entah via email ataupun media lainnya. Semuanya benar-benar berakhir.
“Seharusnya takdir ini terputus sejak awal”, gumamku lirih di dalam hati.
Comments
Post a Comment